Angkringan, menu pinggiran Yogya, berkembang di Jakarta

Sore itu, hujan tak henti-hentinya mengguyur Yogyakarta. Yadi harus berkali-kali membenahi tenda angkringannya. Apalagi, begitu sering angin ‘menggoda’, seperti hendak menerbangkan tenda terpal yang terikat patok di trotoar itu. Batu sebesar kelapa yang menindih patok pun sesekali bergoyang saat angin kencang berhembus.


Laki-laki berusia 53 tahun itu adalah seorang kakek dengan dua cucu yang selama 14 tahun ini menggeluti usaha angkringan, usaha kecil khas Yogya dan Jawa Tengah. Angkringan juga banyak ditemukan di kota-kota lain di luar Yogya dan Jawa Tengah. Di yogya sendiri diperkirakan ada ribuan angkringan. Letaknya bisa di mana saja. Umumnya, di pinggir jalan, emperan toko, bahkan ada juga yang di bawah jembatan layang.

Bentuk usahanya sangat sederhana, dengan modal yang tak terlampau besar pula. Usaha itu hanya membutuhkan tenda, gerobak untuk menjajakan makanan, dan kursi untuk duduk pembeli. Gerobak pun tidak butuh yang khusus. Hanya gerobak dorong, dengan panjang sekitar 2 meter dan lebar 1,5 meter. Di ujung gerobak ada tungku arang untuk memanaskan air.

Makanan khas yang disajikan antara lain ‘nasi kucing’. Karena porsinya sedikit, dengan perpaduan nasi dan sambal ikan teri (mirip makanan kucing). Sampingannya, gorengan, sate usus, tempe-tahu bacem, sate telur burung puyuh, dan lainnya. Tidak lupa minuman standar yang wajib ada: teh hangat, kopi dan wedang jahe.

Sempat menjanjikan

“Dulu saya buka di belakang kampus UPN Babarsari, tapi sejak 4 tahun lalu pindah ke pinggir jalan raya Solo-Yogya ini,” ujar Yadi sambil membakar sate usus dan gorengan di tungku. Di awal-awal membuka angkringan, Yadi merasa usahanya pernah sangat menjanjikan. Dalam sebulan, Ia bisa mengantongi keuntungan hinga Rp. 1 juta.

Namun perlahan kondisi memburuk. “Sekarang sulit. Sehari paling hanya bisa bawa uang Rp. 100 ribu sampai Rp. 120 ribu. Padahal untuk modal buat makanan saja, bisa Rp. 80 ribu sampai Rp. 100 ribu. Harga sembako kan pada naik. Tidak seperti dulu,” lanjutnya. Meski cukup untuk makan, hasil angkringan belum cukup layak untuk hidup.

Slamet, penjual angkringan lain, pun senada. Laki-laki 53 tahun asal Klaten, Jawa Tengah ini sudah 20 tahun menggeluti usaha angkringan. Meski dengan hasil pas-pasan, dua anaknya dibesarkan dengan hasilnya mengangkring tiap malam. “Anak saya sudah besar, jadi tidak lagi menjadi tanggungan,” ungkapnya.

Hal yang membuat angkringan tetap bertahan, jelas ekonom asal Universitas Gajah Mada (UGM), Adiyatma Nugroho adalah faktor sosiologis masyarakat setempat. Terutama, masyarakat yang memiliki kultur suka berkumpul dan bersosialisasi. Dan masyarakat Jawa, khusus di Yogya dan Jawa Tengah, kultur itu ada dan berkembang.

Meski sudah menjadi bagian dari budaya, namun Adi melihat tidak adanya respon yang signifikan dari pemerintah untuk pertumbuhan usaha kecil ini. Usaha pembinaan dengan tujuan pengembangan angkringan, melalui pelatihan kewirausahaan atau bantuan permodalan, jarang bahkan hampir tidak ada. “Padahal angkringan adalah ikon Yogya,” katanya.

Bila pengelolaan angkringan dilakukan, bukan tidak mungkin, angkringan bisa menjadi pendorong wisata Yogya dan Jawa Tengah. “Pelanggan angkringan sebagian besar adalah warga Yogya, saya kira jumlah wisatawan yang “jajan” di angkringan masih relatif sedikit. Wisatawan cenderung memilih lesehan daripada angkringan,” imbuhnya. Tampilan luar angkringan yang hanya dengan tenda dan letaknya di pinggir jalan, terkadang menciptakan kesan kumuh.

Apalagi, rata-rata penjual angkringan adalah orang dengan pendidikan menengah ke bawah. Artinya, usaha angkringan yang dijalankan selama bertahun-tahun hanya “begitu-begitu saja.” Keterbatasan kemampuan dan wawasan menjadi penyebabnya.

Angkringan Jakarta

Di Jakarta, angkringan juga menggejala. Tidak ada catatan khusus sejarah angkringan ala Yogya di Ibu Kota. Hanya saja, bisa dipastikan, angkringan yang ada dibuat pertama kali oleh orang Yogya atau Jawa Tengah yang ada di Jakarta. Ada juga cerita lain, angkringan dibudayakan oleh alumni berbagai universitas di Yogyakarta yang sudah bekerja di Jakarta. Tempat yang awalnya hanya sebagai lokasi kumpul-kumpul ala masa kuliah di Yogya itu pun, berubah menjadi bisnis ‘sungguhan’.

Beberapa lokasi angkringan Jakarta banyak ditemui di wilayah-wilayah yang biasa digunakan kongkow. Sebut saja Blok M, Kota, Kebayoran Lama dan melebar ke Bekasi dan Tangerang. Banyak pula di daerah-daerah yang dekat dengan universitas-universitas, atau tempat-tempat hiburan malam. Untuk mendekati ‘budaya’ modern ala Jakarta, beberapa angkringan Ibu Kota melengkapi warungnya dengan fasilitas lain seperti televisi kabel atau WIFI internet.

Tentu saja, yang membedakan angkringan Yogya dan Jakarta adalah harga makanan yang disajikannya. Meski menunya sama, harga jajanan di angkringan Jakarta 2-3 kali lipat lebih mahal dibandingkan angkringan Yogya. Bukan tidak mungkin, suatu saat, angkringan Jakarta lebih terkenal dibanding angkringan di tempat asalnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *