Cerita Kopi di Sudut Pulau Bali

Sungguh nikmat kopi yang adik suguhkan….
Membuat lidah abang bergoyang-goyang…
Kopi bubuk cap kupu bola dunia……
Yang pantas kita nikmati bersama…..

Cuilan syair lagu iklan di atas itu akrab di telinga pendengar radio di tahun 80-an. Utamanya, di daerah Denpasar dan sekitarnya. Bila mendengar bait lagu ini, hampir pasti, memori warga di sekitar Ibu Kota Provinsi Bali itu teringat toko kopi Bhineka Djaja, produsen kopi lawas Bali bermerek Kupu-kupu Bola Dunia.

Toko kopi Bhineka Djaja mulai beroperasi tahun 1935. Terletak di ‘kota tua’, kawasan Jalan Gajah Mada, toko kopi ini eksis melayani pengunjung dan konsumen loyalnya. Masyarakat yang datang untuk berdagang di kawasan itu, hampir pasti mampir ke Bhineka Djaja. Hebatnya, sampai saat ini Bhineka Djaja masih tetap beroperasi. Tentu saja, dengan menjadikan kopi Kupu-kupu Bola Dunia sebagai andalannya.

Tidak seperti cafe yang bertebaran seantero Bali, toko kopi tua ini juga hanya menyiapkan tiga meja-kursi kayu kecil untuk pelanggan yang datang. Dan tiga meja itu terletak di ruang 3,5x 5 meter. Seakan ‘mengunci’ aroma kopi agar tak tertelan polusi kesibukan lalu-lintas di kawasan perniagaan. Sambil setengah berhimpitan itulah, antar pengunjung bisa semakin akrab.

Penduduk di sekitar toko ini, atau pelaku bisnis di Pasar Badung, adalah pihak yang paling menikmati Bhineka Djaja. Minum kopi sambil duduk di meja kursi bisa dilakukan sekaligus dengan mengawasi aktivitas dagang. Tak sedikit para pemesan kopi membawa cangkir dan gelas sendiri. Display unik dengan berbagai pajangan aneka kopi dari berbagai daerah membuat ritual minum kopi menjadi lebih berwarna. Hadirnya instalasi pajangan mesin penggiling kopi kuno maskin penyeret atmosfir kuno tempat ini.

Unggulan

Kopi, bagi Bhineka Djaja, seperti tembakau dan anggur. Memiliki sejarah dengan kharisma yang spesial. Kopi telah menjadi sebuah ritual untuk banyak orang di seluruh dunia. Rasa dari kopi tergantung pada di mana kopi itu ditanam dan bagaimana kopi itu diproses lalu disiapkan. Oleh karena itu, awal untuk penyajian, kopi harus melalui proses panjang dan resep-resep khusus untuk membantu memunculkan rasa-rasa yang baik.

Tahun 1935, sebuah warga Tionghoa bernama Tjahyadi, mulai berbisnis kopi Bali. Tjahyadi mengawalinya dengan menjual bibit kopi dari para petani di kawasan Kintamani dan Bangli. Hasil kopi dari petani itu diproses dan menjualnya di toko Bian Ek miliknya.

Kopi Bali Bian-Ek dikenal sebagai salah satu kopi nomer satu di Bali. Generasi kedua keluarga Tjahyadi, Juwito Tjahyadi, membawa bisnis Bian Ek ke dalam ‘dunia baru’. Mesin pemroses kopi modern dan teknik-teknik pemasaran pun diterapkan. Sukses besar yang diraih dari bisnis ini tidak luput dari komitmen keluarga untuk menjaga kualitas proses dan pengembangan rasa-rasa kopi. Kopi Bali cap Kupu-kupu Bola Dunia cukup panjang mengurai tapak bisnisnya hingga kini.

Masalah harga, kopi Kupu-kupu Bola Dunia pun tergolong tinggi. Kualitas standart, dijual Rp. 50 ribu per kilo. Sementara kualitas terbaik, ditawarkan Rp. 125 ribu perkilo. Ketut Mertadi, seorang penikmat kopi mengaku, sudah tujuh tahun lebih menjadi pelanggan. Ia biasa mojok di dekat coffe maker machine.

Jika sudah duduk dan memesan kopi Bali dengan harga Rp.6 ribu satu cangkir, sembari memandang keramaian jalan Gajah Mada, nikmatnya tiada tara. “Rasa kopinya sangat fresh, enak dan suasana lawasnya,” katanya. Ketut selalu mengajak teman dan kerabatnya saat bertandang ke toko ini.

Tak hanya soal kesetiaan pelanggan. Bhineka Djaja juga menciptakan pekerja-pekerja yang setia. Made Numir, adalah salah satunya. Di toko Bhineka Djaja, Made mengaku sudah 30 tahun lebih menjadi karyawan toko ini. “Sejak saya muda, ketika usia saya 17 tahun, saya sudah bekerja di toko ini,” kenangnya.

Made mengungkapkan, pada awal dirinya mulai bekerja, Bhineka Djaja banyak disinggahi pedagang sayur, buah, pemilik toko hingga pengemudi dokar yang mangkal di sekitar toko. Kalau toh ada orang luar kota yang hadir, lebih banyak membeli bubuk kopi, untuk dibawa. Baru tahun, tahun 90-an mulai banyak para bule yang datang. Menginjak tahun 2000-an banyak anak muda justru mampir dan menikmati kopi.

Kopi Bali, semoga tak pernah mati,..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *